Cita-cita Nala
CITA-CITA
NALA
Ketika siang
mulai berganti malam, ketika hari telah berganti hari, ketika bulan telah
berganti bulan dan ketika musim telah berganti musim. Tak ku sangka, Ayah belum
juga pulang dari tugasnya di sebuah kota di Jawa Tengah. Sejak 1 tahun yang
lalu Ayah di angkat menjadi seorang wakil Bupati dimana beliau di lahirkan 40
tahun silam, kini Ayah menjadi sangat sibuk. Mungkin karena jarak rumah dengan
tempat dinas yang lumayan jauh, membuat Ayah tak sempat pulang. Tetapi,
setidaknya Aku bisa mendengar suaranya melalui telepon. Terkadang juga, jika
ada waktu Aku beserta Kakakku dan Ibu mengunjungi Ayah. Atau sebaliknya, Ayah
yang pulang kerumah. Biasanya setiap minggu atau bulan Ayah selalu menyempatkan
waktu untuk pulang, tetapi entah akhir-akhir ini Ayah jarang pulang.
Dan pada suatu malam yang indah, dengan ribuan bintang
berkelap-kelip di langit. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu
rumahku. Aku pun bergegas untuk membukanya, berharap dalam hati kalau itu
adalah Ayah. Dan ketika Aku membukanya, itu memang benar-benar Ayah.
“Ayah?” Sambutku dengan
penuh rasa gembira sembari memeluknya.
“Nala? Ayah sangat
merindukanmu?”
“Iya Ayah, Nala juga
sangat merindukan Ayah.”
Mungkin karena
mendengar percakapanku dengan Ayah, Ibu dan Kak Ratna keluar dari kamar. Dan
mereka pun memeluk Ayah. Di malam yang begitu indah ini, Aku lihat rona
kebahagiaan menghiasi keluargaku ini,
Sebelum Aku tidur, Aku
berbincang-bincang dengan Ayah. Memang dari kecil, Aku sangatlah dekat dengan
Ayah. Aku selalu cerita apa saja yang ku lihat dan ku temui dengan Ayah.
“Ayah, kenapa
akhir-akhir ini Ayah jarang pulang? Apa kerjaan Ayah sangat banyak ya?” Tanyaku
dengan sangat polos
“Iya nak, Ayah sangat
sibuk. Tapi mulai minggu depan Ayah akan disini menemani Nala, Kakak dan Ibu.”
“Asyik? Beneran, lalu
bagaimana kerjaan Ayah”
“Sudahlah, Nala tidak
usah mikirin itu, yang terpenting tugas Nala ya belajar yang rajin ya? Biar
cita-cita Nala dapat tercapai.”
“Oh, ya. Oke Ayah, jadi
tugas Nala belajar dan belajar”
“Iya, pinter. Ya sudah,
ini sudah malam. Sekarang Nala tidur ya? Besok kan hari pertama Nala masuk
SMP?”
“Iya yah.”
Dan kini, benar kata Ayah. Ayah sekarang di rumah dan
selalu menemaniku. Menemaniku belajar dan juga mendongengkanku cerita ketika
Aku akan tidur. Sebenarnya Aku bingung, akhir-akhir ini Ayah berubah. Aku tidak
tahu apa yang terjadi pada Ayah, Ayah kini sudah tidak memakai jas dan berdasi
lagi. Sehari-hari Ayah hanya memakai kaos biasa, dan membantu Ibu berjualan
gado-gado keliling di sekitar rumah. Ingin sekali Aku tanyakan pada Ayah,
mengapa Ayah sekarang sudah tidak lagi berpakaian rapi dan berjas dengan mobil
mewah yang selalu mengantarnya kemanapun Ayah pergi. Mengapa Ayah lebih memilih
untuk berjualan gado-gado. Namun, Aku tak berani menanyakannya. Tapi Aku yakin,
apa yang Ayah lakukan ini adalah yang terbaik.
“Ayah, Ibu... Nala
berangkat ke sekolah dulu ya?” Pamitku kepada Ayah dan Ibu sembari mencium
tangannya
“Iya nak. Oh ya, hari
ini kamu berangkat sendiri naik angkutan tidak apa-apa ya? Soalnya tadi kakakmu
buru-buru berangkat, katanya ada bimbel pagi buat persiapan UN” Jelas Ibu
“Oh ya Bu, tidak
apa-apa. Nala bisa berangkat sendiri ko”
“Iya, hati-hati ya
Nal?” Seru Ayah
Akhirnya, Aku pun
berangkat ke sekolah. Untuk naik angkutan, Aku harus berjalan sampai di
perempatan. Ya, kurang lebih 10 menit dari rumahku. Namun, ketika Aku melewati
setiap rumah Aku merasa orang-orang memandangku dengan rasa tidak suka, bahkan
ada yang melontarkan kata-kata yang tidak baik kepadaku.
“Loh, itu kan anaknya
si tukang korupsi ya? Ayahnya kan tukang korupsi uang rakyat. Makanya, dia
memutuskan untuk berhenti. Lha wong korupsi, jadi kan takut di tangkap polisi?”
Ucap salah seorang Ibu
“Tapi, buat
menutup-nutupi akhirnya jualan gado-gado padahal tuh di lemari uangnya
segudang” Sambung yang lainnya
Aku yang mendengar celotehan Ibu-Ibu itu langsung
berlari, entah apa yang terjadi padaku, Aku hanya bisa menangis. Aku tidak
percaya apa yang orang-orang katakan tentang Ayahku. Dan ternyata, tidak sampai
di situ juga. Di sekolahan, Aku pun di cemooh oleh teman-teman sekelasku bahkan
guru-guru yang mengajarku pun kini menatapku dengan aneh, seperti merasa tidak
suka.
Dan sepulang sekolah, Aku langsung menangis di kamar.
Melihat Aku menangis, Ayah pun menemuiku.
“Kamu kenapa Nal? Ada
masalah di sekolah?” Tanya Ayah
“Bukan hanya di sekolah
tapi juga di sekitar rumah Ayah. Semua orang mengejekku, kalau Aku anak seorang
korupsi, mereka semua mengejek kalau Ayah korupsi. Apa itu benar Yah?” Jelasku
sembari air mata yang terus membasahi pipiku
“Nala percaya kalau
Ayah melakukan hal serendah itu?”
“Tidak Ayah, Nala sama
sekali tidak percaya. Tapi di sisi lain Nala juga bingung, mengapa Ayah
berhenti jadi wakil Bupati?”
“Nala kenal Ayah kan,
Ayah tidak mungkin melakukan itu. Ayah memutuskan untuk berhenti dari kerjaan
Ayah, karena Ayah ingin sepenuhnya bertanggung jawab untuk keluarga ini. Dan
satu lagi, Ayah belum bisa berlaku adil nak. Ayah takut, jika Ayah tetap
melakukannya Ayah malah mengecewakan rakyat banyak. Makanya, Ayah belajar adil
dulu dari keluarga ini. Ayah juga tidak sanggup terus-menerus meninggalkan
keluarga ini”
“Ayah, maafin Nala.
Nala bangga sama Ayah?” Ucapku sembari memeluk Ayah
“Iya nak, ingat nak
apapun yang orang lain katakan belum tentu itu yang benar. Dan sekarang Nala
sudah tahu yang sebenarnya, maka jangan hiraukan apa yang orang-orang lain
katakan sama Nala ya”
“Iya, Ayah.”
Akhirnya, Aku tetap
bersemangat untuk belajar. Aku tidak menghiraukan orang-orang yang mencemoohku
dan Ayah, karena Aku sudah tahu kebenarannya. Dan seiring berjalannya waktu,
orang-orang pun berhenti mencemoohku. Entah semenjak kejadian itu, Aku ingin
tahu tentang dunia politik. Aku juga suka mempelajari mengenai kasus korupsi.
Dan bahkan kini itu yang menjadi cita-citaku, Aku ingin bisa memberantas
korupsi. Aku juga ingin, pelaku korupsi bisa di tangani dan di hukum sesuai
dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Sehingga, tidak ada lagi orang-orang
seperti Ayahku yang di fitnah melakukan korupsi padahal kenyataannya tidak
demikian.
Dan
tak terasa 13 tahun sudah berlalu begitu cepatnya, setelah menempuh kuliah
kurang lebih selama 4 tahun dan beragam pekerjaan pernah Aku jalani. Kini tanpa
Aku duga, Aku telah menjadi seorang petugas KPK. Ternyata, rasa keingin tahuan
Aku tentang berbagai kasus KKN membuatku di angkat menjadi salah satu petugas
KPK. Dan alhhamdulillah, cita-citaku yang lain juga bisa Aku laksanakan. Dengan
uangku sendiri Aku bisa mengajak kedua orang tuaku ke tanah suci mekkah untuk
melaksanakan haji dan umroh. Ayah dan Ibu pun sangat bangga kepadaku, terlebih
Ayah. Beliau sangat mendukungku. Dan di sela-sela tugasku, Aku juga
menyempatkan waktuku untuk menulis. Karena memang Aku sangat menyukai menulis,
Aku pun berinisiatif untuk membuat sebuah buku tentang korupsi, yang dimana
isinya ku selipi tentang pengalamanku menjadi petugas KPK. Dalam selang waktu 2
bulan, akhirnya buku yang ku tulis pun di terbitkan. Dan tanpa ku duga
sebelumnya, ternyata buku itu mendapat respon yang baik oleh para pembaca.
Mereka sangat menyukai tulisanku, bahkan diantara mereka juga menginginkan Aku
untuk membuat buku tentang tema yang sama. Aku hanya berharap semoga masyarakat
tahu dan mengerti mengenai apa itu korupsi, dan bagaimana sulitnya tugas KPK
untuk memberantas kasus korupsi di Indonesia ini. Sehingga dengan demikian
timbul kesadaran, untuk bisa membantu dan ikut berpartisipasi untuk
bersama-sama memberantas korupsi. Karena jika bukan kita yang bertindak siapa
lagi.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar