Goresan Tinta Dalam Kegelapan


GORESAN TINTA DALAM KEGELAPAN
Gemerincik hujan yang turun sejak sore tak kunjung terhenti. Letupan-letupan keras petir belum juga tenang. Semilir angin masih betah menari-nari di sekitar pelupuk mataku. Tak ada yang bersuara bahkan bergeming, yang terdengar hanyalah suara rintik hujan di atap genting. Gelap gulita, hanya sesekali cahaya petir yang terlihat.
Aku tetap berdiri mematung di balik jendela. Mataku menerawang keluar, sembari mengusap air mata yang terus membasahi pipi yang dingin tersentuh angin hujan. Kalau saja bulan dan bintang sedang berbaik hati pada bumi pertiwi, pastilah tak ada air mata.  Namun, 2 hari belakangan ini langit hanya mengencingi bumi pertiwi. Sepertinya ia sedang bersedih, seperti sedihnya hatiku. Seminggu yang lalu aku baru dimandikan air mata, kehilangan kakak tercinta membuatku sulit melebarkan senyum, ia pergi tanpa meninggalkan pesan hanya seutas pita hitam yang ia tinggalkan.
Setiap hujan turun, aku selalu teringat akan kakak tercintaku. Dia sangat suka dengan hujan. Karena, menurutnya hujan banyak memberikan ia inspirasi. Yang tercurahkan dalam rangkaian kata-kata yang indah, menjadi sebuah kalimat yang cantik dan enak untuk dibaca. Kakakku seorang penulis terbaik, ia banyak menorehkan beragam penghargaan. Kekaguman yang terpatri di hatiku kepada sosoknya, membuatku tak sanggup menerima kenyataan bahwa ia telah tiada dalam sebuah kecelakaan pesawat, yang saat itu ingin membawanya mengikuti seminar di Malaysia. Namun, pesawat itu bukan mengantarkannya ke Malaysia. Tetapi mengantarkannya menuju tempat yang jauh lebih indah dari Malaysia, tempat yang kekal. Mungkin syurga lah tempat yang paling tepat untuk kakakku.
Cuaca yang cerah, berselimut awan putih mengitari langit. Mentari yang tak lagi malu-malu untuk muncul. Burung-burung yang tanpa ragu mengepakkan sayapnya di udara, Sembari sesekali singgah di ranting-ranting pohon. Tak ada lagi mata yang berkaca-kaca. Kekuatan iman kini telah terpatri dalam dada, kesedihanku mungkin telah memilih sirna dari dunia. Kini aku mulai meneguhkan hatiku, aku akan kembali lagi menjadi diriku yang dulu. Seseorang gadis yang penuh dengan keceriaan dan semangat. Kembali menuangkan inspirasiku dalam sebuah tulisan, meski sang sumber inspirasiku telah tiada. Inspirasiku takkan pernah pudar. Akan tetap terus tumbuh untuk menggoreskan tinta hitam dalam lembar demi lembar kertas putih, menjadi kertas yang penuh dengan jutaan makna. Meski ilmuku tak sebanyak kakak, namun aku sedikit-sedikit tahu tentang dunia sastra. Setiap kali kakak menuangkan inspirasinya dalam tulisan, aku selalu memperhatikannya. Dalam lubuk hatiku, ada sebuah keinginan yang kuat untuk mengukir sebuah prestasi melanjutkan prestasi kakak yang sempat tertunda. Aku akan belajar menulis. Kata seorang penyair, lebih baik jahit bunga di tepi gaunmu. Tapi itu tak berlaku untukku, aku ingin jahit puisi di dada waktu.
“Kak Tyara, aku tak akan mengecewakan kakak. Akan ku lanjutkan goresan demi goresan mutiara sastra yang belum sempat terselesaikan, meski mungkin hasilnya tak mungkin bisa sesempurna karya kakak. Tetapi, dengan segenap jiwaku aku akan berusaha menyempurnakannya.”
***
Musim terus menggugurkan daun. Seperti angin mencumbu pucuk-pucuk ilalang sepanjang hari. Begitu dingin.
Setelah berfikir panjang, akhirnya aku membulatkan tekadku dan meninggalkan keegoisanku. Setelah lulus SMA, Aku memutuskan untuk kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Dan ternyata Sang Kuasa meridhoi jalanku. Kini aku memulai mengukir mimpi-mimpiku menjadi seorang sastrawan, sebuah nama yang almarhumah kakakku dan keluargaku sangat inginkan dariku. Namun sepertinya itu belum melekat di dalam diriku. Selama 2 tahun menulis, aku belum bisa membohongi hati dan jiwaku. Perasaan mati tak ada yang aku rasakan, tak ada penghayatan dan kenikmatan saat aku goreskan tinta demi tinta dalam lembar kertas. Aku memang suka menulis, tapi entahlah sampai sekarang aku belum bisa merasakan apa yang aku tulis.  
“Ada apa denganku, kenapa sampai sekarang aku belum bisa menikmatinya. Terasa mati dan begitu hampa kurasakan?” Ucapku sembari tanpa sadar melemparkan sebuah pen dan buku yang berisi karya tulisanku. Aku terpaku begitu lama di bawah pohon cemara di sudut kampus. Termenung. Mataku yang bulat mulai jernih dan berkaca, meneteskan butiran-butiran air mata kecil, kemudian mengalir semakin deras. Melewati pipiku, lalu sampai ke dagu.
“Apakah ini buku dan pen kamu?”
Ku usap air mataku, terlihat seorang pemuda dengan lesung pipit di pipi kanannya. Kaca mata yang melingkari kedua bola matanya, terkesan begitu berwibawa dengan tubuh tegap, baju kotak-kotak berwarna biru tua dan celana hitam panjang yang dikenakannya.
“Apakah ini milikmu?” Sambung pemuda itu kembali, sembari memperlihatkan buku dan pen milikku.
Aku hanya mengangguk. Membenarkan kata-katanya. Pemuda itu pun memberikan pen dan bukuku, aku menerimanya dengan sebuah senyuman dan ucapan terima kasih sembari pergi berlalu.
“Lain kali jangan membuang-buang ilmu. Kalau kamu membuang bukumu, kamu sama halnya membuang ilmu kamu. Karena buku itu sumbernya ilmu.” Seru pemuda itu dengan suara lantang.
Aku mendengar apa yang ia katakan, tapi entahlah aku enggan membalikkan tubuhku untuk kembali menatapnya. Rasanya malu jika aku kembali. Akhirnya, aku tetap berlalu tanpa menghiraukannya.
***
Setelah singgah di ranting-ranting pohon, kini burung-burung itu kembali terbang. Terbang, mengepakkan sayapnya ke langit yang begitu cerah dengan warna kebiru-biruan dan putih bersih. Melayang ke udara dengan warna-warni bulu yang mungkin sangat lembut untuk dibelai. Meski panas yang begitu menyengat kulit, rasa panas yang merasuk sampai ke ubun-ubun hingga menusuk kalbu, keringat yang pasti bercucuran dari kening hingga meluncur ke dagu. Tak menghalangi langkah burung-burung untuk menghirup udara dan menari-nari dengan angin. Aku pun tak ingin kalah dengan mereka, ku lawan rasa malasku. Melangkah dengan semangat baru, mencari sebuah inspirasi yang ada di sekitar pelupuk mataku. Menggenggam kesuksesan yang ada di depanku.
Hari ini, ada sebuah seminar nasional di kampus.  Sebuah seminar yang mengantarkanku untuk kembali lagi bertemu dengan pemuda tempo lalu, ternyata pemuda itu adalah narasumber di seminar yang aku adakan. Sungguh, perasaanku terbalut oleh perasaan malu yang bertubi-tubi menyiksaku. Keringat dingin yang terus bercucuran dikeningku dan wajah yang pucat pasi.
“Kamu kenapa tyara? Ko pucat gitu wajahnya, sakit ya? Udah gih kamu istirahat saja, biar seminar ini aku yang menghandle.” Ucap tara temanku
“Iya udah, makasih ya tar?”
Aku pun segera keluar dari ruangan itu, dengan gugup aku cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Menuju taman di belakang kampus.
“Alhamdulillah, akhirnya aku ga ketemu lagi sama tu pemuda ...”
Aku singgah di bawah pohon beringin, menikmati semilir angin yang berhembus, daun-daun cemara yang tak segan-segan meliuk-liukkan tubuhnya. Sesekali daun-daun kering berjatuhan dari dahannya.
“Disini udaranya sejuk ya?” terdengar suara seorang pemuda mengagetkanku, dan ketika aku menengok ke kanan ternyata pemuda tempo lalu itu lagi. Aku beranjak dari tempat dudukku, untuk menutupi perasaan maluku aku menggerakkan kedua tanganku sembari tersenyum tipis.
“Hei, ngapain sih kamu? Sini loh duduk. Oh ya, ngomong-ngomong waktu itu ngapain sih kamu buang pen dan bukumu?”
“Buang? Siapa yang buang, waktu itu tidak sengaja terlempar?” sahutku sembari kembali duduk di bawah pohon beringin.
“Tidak sengaja bagaimana?”
“Ya tidak sengaja, waktu itu aku reflek. Karena aku merasa tidak menikmati saat aku menulis, aku tidak bisa merasakan apa yang aku tulis. Semuanya terasa hambar. Makanya, tidak sadar aku telah membuang pen dan bukuku itu”
Di bawah pohon beringin itulah awal perkenalanku dengan Yudha Pratama anak jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, sama denganku. Kini persahabatanku dengan Yudha terukir, sosoknya yang penyabar, pinter dan jago buat puisi itu yang membuatku kagum kepadanya. Selain sahabat, dia juga seperti sosok kakak yang mengayomiku. Kita berdua selalu menyempatkan waktu untuk sharing-sharing sastra, bahkan sesekali Yudha mengajakku jalan-jalan sembari ia membuatkanku sebuah puisi.
Langit menyergap senja. Gerimis kini kembali muncul. Langit merah di balik bukit belakang kampus memanggil-manggil malam.
***
Perjumpaan selanjutnya kita berdua adalah pada senja berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas pun sedikit mendingin.
“Bolehkah aku mengajakmu jalan-jalan?”
Permintaannya tiba-tiba. Dan mustahil kutolak. Kios-kios makanan, aksesoris bahkan souvenir terserak di sekitar alun-alun kota Semarang. Kita berjalan beriringan. Mengusir dingin. Seperti sepasang kekasih. Gerimis yang tak juga reda membasahi jilbabku dan rambut Yudha. Yudha banyak memberiku inspirasi, aku yang sebelumnya belum bisa merasakan apa yang aku tulis dalam sebuah kertas putih. Kini aku dapat mulai merasakan dan menjiwai apa yang aku goreskan.
“Hujan sepertinya akan deras, sebaiknya kita pulang saja. Aku takut nanti kamu sakit.” Dia memecahkan sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga. Aku pun mengiyakannya. Dengan sepeda motor, ia membawaku pulang ke kos. Melaju begitu kencang dengan diguyur hujan.
“Tyara, ayo bangunlah”
Suara Yudha menyadarkanku. Entah apa yang terjadi denganku, aku tak mengingatnya. Aku terbangun, namun rasanya gelap. Tak ada sedikitpun cahaya.
“Ya allah gelap, Yudha. Lampunya mati ya?”
“Tidak tyara. Lampunya nyala, maafkan aku tyara?” Sepertinya Yudha menangis, karena air matanya menetes di tanganku.
“Lalu kenapa semuanya gelap?”
“Tadi malam kecelakaan ra, dan kepalamu terbentur sampai ke syaraf mata. Sehingga membuatmu tidak bisa melihat lagi, maafkan aku ra?” Jelas Yudha sembari terasa memegang tanganku, dan sepertinya air matanya tak kunjung terhenti.
Aku termenung. Badanku hancur, namun hatiku lebih hancur. Mataku berkaca-kaca, meneteskan butiran-butiran air mata kecil yang mengalir deras. Yang terbesit dan bergejolak di hatiku adalah bagaimana aku bisa menulis lagi dengan keadaanku seperti sekarang ini, tak bisa melihat. Hanya kegelapan yang sekarang menyelimutiku. Aku ingin marah dengan Yudha, karena kecerobohannya aku menjadi seperti ini. Tapi aku sadar, ini semua sudah diatur. Aku meneguhkan hatiku untuk bisa menerima semua yang terjadi padaku. Disaat aku sudah menemukan jiwa dan rasaku dalam menulis, Sang Illahi memberiku cobaan ini.
“Lalu kau tak apa-apa Yud? Apakah kau terluka?” ku mencoba tegar
“Aku tak apa-apa ra... maafkan aku, mungkin tadi malam aku mengendarai motor terlalu kencang hingga aku tak melihat ada belokan di persimpangan ujung jalan dekat kosanmu.”
“Syukur alhamdulillah. Sudahlah tak apa, ini semua kan kehendak-Nya. Aku mau minta tolong, jangan kasih tahu keadaanku kepada kedua orang tuaku ya Yud. Aku tidak ingin mereka kawatir denganku. Dan mungkin, sampai disini saja aku menulis. Aku tak akan mampu lagi menggoreskan tinta.”
“Iya ra, aku tidak akan memberita tahukan kepada keluargamu. Tidak ra, kamu harus tetap menulis. Kau adalah sastrawan hebat. Aku yakin kamu mampu melewatinya, aku akan membantumu.”
Perkataan Yudha sungguh menggetarkan raga dan relung kalbuku yang terdalam, aku yang sempat berkeinginan untuk menghentikan langkahku. Asa yang selama ini terpatri dihati sempat roboh, kini terasa kokoh kembali. Butiran air mata yang yang mengalir deras dari pelupuk mataku, kini terhenti. Berganti dengan sebuah guratan senyuman.
“Aku harus tetap semangat, semangat menulis dan semangat untuk kuliah” ucapku dalam hati
***
Suara Yudha masih terngiang-ngiang di otakku, terasa masih benderang. Perkataannya seolah tak berujung tersimpan di hatiku. Sementara fajar beringsut mendekat.
“Gimana sudah menemukan inspirasi?”
“Belum Yud.”
“Kalau gitu, aku akan mengajakmu menemukan inspirasimu.”
Dengan telaten, Yudha memapahku. Entahlah kemana dia akan mengajakku. Dengan sebuah taxi, Yudha membawaku pergi dari kos menuju sebuah tempat yang belum aku tahu. Tak berselang lama, Yudha mengajakku untuk turun dari taxi. Dia kembali memapahku.
“Apa yang kau rasakan Tyara?”
“Angin terasa menari-nari di sekitarku, udara dingin yang begitu menusuk kalbu. Terdengar kicauan burung bersahutan. Sepertinya, ini di sebuah taman yang bertaburan kupu-kupu yang berwarna-warni.”
“Sip, hebat...! perasaanmu begitu tajam ra. Sekarang temukan inspirasimu disini, ukirlah goresan tinta dalam kegelapanmu. Rasakan dengan penuh, kau akan menemukan setitik cahaya yang bersinar”
Aku ikuti kata-kata Yudha. Dan memang benar, yang semula terasa begitu gelap. Kini terlihat ada setitik cahaya. Seperti aku mampu melihat lagi, sungguh begitu terasa di batinku. Aku mencoba untuk menggoreskan tinta dalam bayangku. Angan-anganku seolah-oleh terukir kembali. Apa yang aku rasa, ku ceritakan kepada Yudha. Yudha pun  menorehkan yang aku katakan dalam sebuah goresan tinta. Dan tanpa ku tahu Yudha memberiku sebuah komputer untuk orsng tunanetra. Aku pun mampu menulis, meski dalam kegelapan.
***
Kau suka gelap?
Kini aku sudah mulai menyukai gelap. Dalam gelap, saya menjadi sebutir rahasia. Dalam rahasia, saya menjadi gerimis tanpa satu orang pun tahu kecuali mata waktu.
Kini fajar demi fajar berlalu. Gerimis yang terus turun, kini telah berganti mentari yang begitu hangat. Yudha kembali mengajakku. Namun, kali ini Yudha mengajakku ke sebuah acara peluncuran buku sahabatnya. Di sepanjang perjalanan, Yudha bungkam. Dia diam seribu bahasa.
“Sudah nyampe ra, ayo turun?” ajak Yudha sembari membukakan pintu taxi.
Sepertinya acara ini di ikuti oleh banyak orang, karena ku dengar hiruk pikuk suara orang-orang dalam ruangan itu.
Yudha mengajakku untuk duduk, ku ikuti acara demi acara dengan hikmat.
“Baiklah, yang kita tunggu-tunggu peluncuran sebuah buku dari sahabat kita yang berjudul Gerimis Senja di Bukit Cinta”
Perkataan dari pembawa acara itu membuatku tertegun dan kaget bukan kepalang.
“Yudha, itu kan kumpulan cerpen yang selama ini aku buat bersamamu.”
“Iya ra, itu cerpenmu”
“Jadi, ini semua kamu yang nglakuin?”
“Bukan ra, ini semua kerja keras kamu. Aku hanya membantumu menulis saja.”
“Tapi semua ini tidak akan terjadi tanpa bantuan dan support dari kamu. Terima kasih Yud...” Sembari berlinangan air mata
Hari ini bagaikan mimpi, aku berhasil mewujudkan mimpi almarhumah kakakku untuk meluncurkan sebuah kumpulan cerpen. Kedua orang tuaku juga sangat bangga kepadaku. Aku tak akan berhenti sampai disini, ini adalah lembaran pertamaku di dunia sastra. Aku akan selalu mewarnai dunia sastra. Terus berkarya. Kegelapan tidak akan menghalangiku untuk terus menulis. Menggoreskan tinta demi tinta yang penuh makna.
Ruangan yang begitu senyap kini tiba-tiba ramai. Terdengar tepukan dan sorakan dari pengunjung memberi keramaian tersendiri dalam ruangan. Di balik jendela syurga, pastilah kakak juga tersenyum padaku.
Kini aku rasa, aku benar-benar pernah mendengar tawa tipis dan ringan itu, terdengar begitu lepas, melayang kemana-mana, dan ditangkap daun-daun gelisah. Satu serpih tawanya melayang ke arahku, terdengar begitu bening. Aku ingin menangkap serpih kecil tawa itu dengan kedua tangan. Aku ingin melompat-lompat. Setelah dapat, kugenggam rapat-rapat. Aku bermaksud membawa pulang dalam kegelapan bola mataku, untuk segera membuatkannya rumah-semacam kotak kecil dari kayu. Lalu kotak kayu itu akan mengeluarkan suara tawa yang bening, sepanjang malam dingin tanpa bulan.
            Sungguh, semua yang kupikirkan ini benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.















Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah selalu bersamaku....

Duri

Laporan Batik di Museum Ranggawarsita