السلام
عليكم ورحمة لله و بركته
HARMONISASI
DIVERSITAS AGAMA ISLAM
Di Indonesia,
perbedaan yang menyangkut keyakinan atau agama masih saja terjadi, bahkan
semakin hari semakin terasa perselisihan dalam kaitannya pemahaman terhadap
suatu nash-nash Al-Quran dan Sunnah. Hal ini tidak mengherankan, karena memang
Indonesia merupakan negara pluralis, baik ras, suku, bahasa, adat istiadat,
maupun khususnya dalam kaitannya keyakinan atau agama. Wujud keberagaman itu
disimbolkan melalui Bhineka Tunggal Ika yang merupakan simbol dari negara
Indonesia. Namun, bagaimana jadinya jika perbedaan dalam kaitannya
keyakinan itu terus terjadi sehingga
menimbulkan perpecahan?
Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala variasinya yang beragam.
Perbedaan yang terjadi diantara manusia itu, terasa begitu indah jika semua
pihak saling toleransi dan pluralisme. Namun, tidak jarang karena perbedaan
itulah menimbulkan sebuah perselisihan. Terlebih jika perbedaan itu menyangkut
masalah keyakinan atau agama. Tidak jarang perbedaan pendapat antara satu pihak dengan pihak lainnya, muncul dikarenakan
perbedaan hal yang mendasar ini. Apalagi, perbedaan keyakinan atau agama itu
berada dalam satu keyakinan yang sama dan hanya karena adanya pemahaman
terhadap suatu nash-nash yang berbeda antar satu dengan yang lain, memicu timbulnya
suatu perbedaan di antara mereka.
Harmonisasi Beragama Islam
Sebenarnya Rasulullah telah memberikan contoh harmonisasi dalam kehidupan
beragama. Alhasil apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam
menciptakan toleransi beragama, bisa menjadi tauladan bagi seluruh umat
manusia. Hal itu juga yang merupakan salah satu alasan, mengapa seorang muslim
diperintahkan untuk mengikuti pola perilaku Rasulullah SAW. Selama
bertahun-tahun masa dakwah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW telah
mencontohkan serta mengajarkan banyak hal untuk umat Islam, meski dalam bentuk
penyampaian yang dilakukan oleh beliau bisa saja terdapat perbedaan antara satu
situasi dengan situasi yang lainnya. Kemudian suatu masa ketika Rasulullah SAW
telah tiada, mulailah banyak permasalahan baru bermunculan. Namun dengan
mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah yang di wariskan Rasulullah SAW, manusia bisa
mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi.
Namun seiring berjalannya waktu, yang semakin hari semakin modern tidak
jarang persolan-persoalan baru bermunculan, dengan banyak nash-nash yang
membutuhkan pemahaman kuat. Dampak negatif dari banyaknya nash-nash yang
membutuhkan pemahaman tersebut, timbullah perbedaan karena pemahaman
masing-masing yang berbeda antar satu golongan dengan golongan yang lainnya.
Indonesia sebagai negara yang
majemuk, memang rawan timbulnya perselisihan antar golongan masyarakat. Namun,
jika saling menghakimi satu sama lain ataupun menekan terjadinya pluralitas
sosial, bisa dikatakan berarti tidak mengakui semboyan bhineka tunggal ika itu
sebagai semboyan negara Indonesia.
Masyarakat Indonesia tidak boleh bertahan dengan egoisme yang besar,
ketika realitanya suatu hal itu baik untuk lingkungan, maka alangkah baiknya
jika hal tersebut tetap dipertahankan. Hal demikian secara tidak langsung sudah
meninggalkan unsur subjektivitas, dan beralih ke hal-hal yang bersifat
objektif.
Dengan adanya sikap saling toleransi
antar satu umat beragama, setiap insan diharapkan mampu untuk bersikap saling hormat
menghormati, dan menanamkan pada diri bahwa kita semua sejak semula memang
berbeda-beda dalam banyak hal. Lebih-lebih kaitannya dalam bidang akidah, iman,
dan masih banyak lagi. Jadikanlah sebuah perbedaan itu menjadi sebuah keindahan
tersendiri, sebuah pernak-pernik yang bisa membuat kita menjadi lebih dekat
antar satu dengan yang lain, dengan sikap saling memahami. Jangan jadikan
perbedaan itu sebagai sekat pemisah antar satu golongan dengan golongan lain
apalagi yang masih dalam satu ruang lingkup agama Islam. Oleh karena itu, demi
untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kepentingan kehidupan bersama, mau
tidak mau kita harus rela untuk menjalin kerja sama (cooperation) dalam
bentuk kontrak sosial antar sesama kelompok warga masyarakat. Selain itu, perlu
adanya sebuah pendidikan.
Pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi perlu
dilakukan dalam kehidupan bangsa yang majemuk, sehingga upaya untuk
mengharmonisasikan diversitas dalam beragama Islam dapat terwujud. Semua insan dapat
saling menerima keberagaman diantara mereka, karena pada intinya agama Islam
adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, dan agama Islam adalah
satu-satunya agama yang benar menurut Allah SWT. Maka tak sepatutnya perbedaan
hal-hal kecil, seperti misalkan perbedaan dalam penentuan awal bulan ramadhan
dan 1 syawal itu diperbesar sehingga menimbulkan perpecahan antar berbagai
pihak. Jika kita tidak terlalu disibukkan dengan persoalan-persoalan karena
perbedaan, maka secara tidak langsung keselarasan dalam beragama Islam akan
terwujud dengan sendirinya.
والسلام
عليكم ورحمة لله و بركته
Komentar
Posting Komentar