Cinta akan indah pada waktunya


CINTA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA
            Ketika sang mentari menyapa dengan hangatnya, dedaunan melambai-lambai menyambutku, serta lantunan angin yang menari-nari di sekitar pelupuk mataku. Aku memulai aktivitasku untuk bersih-bersih lingkungan pondok, Aku bukanlah santriwati maupun pengurus pondok. Melainkan seorang pembantu di pesantren Baitussalam di Tegal. Mungkin tak pernah terbesit di fikiranku untuk menjadi pembantu disini di usiaku yang menginjak 15 tahun, tetapi karena keinginan dan tekat yang kuat dari hatiku untuk mondok di pesantren tak dapat Aku lakukan, karena terhalang oleh biaya. Sehingga Aku memutuskan untuk menjadi pembantu disini. Alhamdulillah, Aku mendapatkan tempat tinggal dan ilmu keagamaan disini, meski tak jarang Aku sering mendapatkan cemooh dari para santriwan maupun santriwati karena pekerjaanku ini. Namun Aku tak pernah malu akan itu, ini membuatku menjadi wanita yang kuat. Kelak Aku akan pulang menemui kedua orang tuaku dan ke-5 adikku di Pemalang, dengan bekal ilmu yang bisa Aku ajarkan kepada mereka
“Fatimah? Bisakah kamu bantu Mbok untuk menyiapkan makanan di dapur sekarang?” Ucap Mbok Lastri, pembantu memasak di dapur.
“Iya, Mbok.” Jawabku sembari segera ikut dengannya ke dapur.
Di dapur, Aku memulai pekerjaanku dengan memotong sayuran dan meracik segala bumbu rempah. Jangan heran meski usiaku yang masih belia, Aku sudah dapat memasak makanan yang enak. Karena memang Ibu selalu mengajariku untuk segala hal, termasuk salah satunya memasak.
“Kita tinggal membuat lauknya, tadi Mbok sudah masak nasi.” Seru Mbok Lastri
“Oh, iya Mbok.”
Ketika waktu menunjukkan pukul 06:15 tibalah berbondong-bondong santriwan dan santriwati menuju ke dapur untuk makan pagi. Alhamdulillah semua nasi dan lauknya sudah matang dan siap. Dengan tertibnya mereka mengantri untuk mendapatkan jatah nasi dan lauknya, melihatnya sungguh sangat menyenangkan.
            Ketika semua santri sudah selesai mengambil makanan, Aku kembali ke dapur untuk membantu Mbok Lastri dan Mbok Tuminah membereskan alat-alat dapur.
“Heiy, kenapa kamu tidak makan pagi?” Tiba-tiba seseorang santriwan mengagetkanku
“Tidak,” Jawabku seketika
“Kenapa? Kehabisan yah? Ini ambil saja punyaku?” Pintanya
“Tidak, terimakasih. Saya disini hanya seorang pembantu bukan santriwati, jadi tidak pantas saya makan bersama kalian?”
“Apa? Pembantu...?”Ucap santriwan itu dengan wajah terkejut
“Iya. Sudahlah kamu sebaiknya habiskan saja makananmu. Karena sebentar lagi masuk sekolah.” Usulku
Santriwan itu hanya diam dan kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku.
            Hari demi hari berlalu, tak terasa kini umurku telah menginjak 17 tahun. Jadi sudah 2 tahun Aku di pesantren ini. Ilmu yang ku dapat pun lumayan. Aku sudah menghafal 10 juz Al-qur’an dan Aku sudah dapat membaca dan menghafalkan berbagai kitab. Masalah fiqih dan pengetahuan agama pun Aku dapatkan juga. Namun, Aku harus bersabar menunggu 1 tahun lagi.
“Fatimah, ini ada titipan buat kamu?” Ucap mbok Lastri sembari membawa sepucuk mawar merah.
“Mawar merah? Dari siapa mbok?” Tanyaku bingung
“Mbok juga kurang tahu, soalnya tadi ngasih ke mboknya pas shubuh-shubuh. Yang pasti Dia adalah seorang santriwan,” Ucap mbok Lastri sembari memberikan setangkai mawar merah nan indah itu kepadaku.
“Oh iya Mbok, terima kasih ya Mbok?” Jawabku sembari bingung memikirkan siapa santriwan yang mengirimkan mawar ini kepadaku, dan apa maksud dan tujuannya.
“Ya, sama-sama. Oh ya, kamu masak disini sendirian dulu tidak apa-apa kan Mah? Soalnya sekarang Mbok harus ke pasar beli kebutuhan makanan. Soalnya persediaannya sudah hampir habis.”
“Iya Mbok, tidak apa-apa.”
Kemudian Mbok Lastri pun pergi ke pasar, dan Aku pun mulai melanjutkan aktivitasku untuk memasak. Sembari memotong bawang merah, Aku terus memandang Bunga Mawar nan indah itu.
“Santriwati siapa ya yang mengirimkan Bunga ini?” Desahku
Malam menjelang, dan suara adzan maghrib pun berkumadang dari arah Masjid at-taqwa di pesantren. Semua para santriwati pun bergegas berangkat menuju ke Masjid tak terkecuali Aku bersama Mbok Lastri juga bergegas menuju ke Masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah.
“Mah, nanti setelah ba’da maghrib kamu bisa bantu Mbok untuk masak di dapur? Soalnya tadi sore sepulang Mbok dari pasar, Pak kyai bilang sama Mbok. Katanya nanti ba’da isya ada tamu dari pesantren Darus Salam di Jawa Tengah. Kalau Mbok tidak salah dengar, namanya KH.Akhmad Mustofa pemimpin ponpes Darus salam yang kesini.”
“KH. Akhmad Mustofa Mbok? Wahh, itukan kyai yang Aku kagumi Mbok. Itu terkenal sekali di jawa tengah. Tapi ba’da maghrib Fatimah harus ngaji kitab kuning Mbok. Tapi, tidak papa deh Mbok. Nanti Fatimah izin sama Ustadzah Annisa”
“Iya Mah,”
Dan setelah sholat maghrib pun Aku meminta izin kepada Ustadzah Annisa, Alhamdulillah beliau mengizinkanku. Aku pun bergegas menuju ke dapur.
“Mbok, maaf Fatimah terlambat”
“Iya Mah, tidak apa-apa. Lagian Mbok baru mulai. Oh ya, ini ada titipan Bunga lagi buat kamu.”
“Bunga mawar lagi?”
Tetapi Aku tidak terlalu memikirkan Bunga itu, Aku langsung membantu Mbok Lastri memasak dan menyiapkan makanan untuk menjamu kedatangan Kyai Akhmad.
Selesai sholat isya, Aku dan Mbok Lastri pun segera menghidangkan makanan itu di Balai pertemuan. Dan Aku lihat banyak mobil-mobil berdatangan, dan masya Allah disana ada kyai Akhmad.
“Kyai Akhmad?” Ucapku terkagum-kagum setelah melihat sosoknya yang berwibawa, santun, soleh, dan lembut. Dengan baju serba putih, dan sorban berwarna hijau yang melingkari pundaknya serta peci putihnya membuat KH. Akhmad Mustofa tampak sangat sempurna.
“Mah, ayo cepat kita harus menghidangkan makanan ini?” Ucap Mbok Lastri mengingatkanku.
“Oh, iya Mbok.”
Ketika Aku sedang mengantarkan makanan, Aku melihat sosok pemuda seumuran denganku dengan pakaian serba sama dengan Kyai Akhmad. Dan tiba-tiba saja ia menghampiriku.
“Santriwati disini ya?” Ucapnya penuh keramahan dengan senyum indah di wajahnya
“Hm, bukan. Saya disini hanyalah pembantu ponpes.” Jawabku
“Oh, maafkan saya?”
“Tidak apa-apa, atas kebaikan Pak kyai dan Bu nyai juga saya bisa belajar ilmu agama disini.”  
“Oh, ya beliau memang orang yang baik. Adik saya juga mondok disini, namanya Ja’far.”
Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba saja Mbok Lastri memanggilku, mungkin ia memerlukan bantuanku.
“Saya harus pergi, permisi...” Ucapku
Di dapur, ketika Aku sedang mencuci piring-piring yang kotor tiba-tiba saja Mbok Lastri menghampiriku.
“Tadi di Balai pertemuan Mbok lihat kamu berbincang-bincang dengan anak Kyai Akhmad ya, kamu mengenalnya Mah?”
“Anak Kyai Akhmad? Tidak kok Mbok, tadi Fatimah Cuma berbincang-bincang sama seorang pemuda yang adiknya katanya mondok disini juga. Kalau tidak salah adiknya namanya Ja’far Mbok.” Jelasku
“Loh memangnya kamu tidak tahu ya Mah? Pemuda itu namanya Yusuf, Dia adalah anak pertama Kyai Akhmad.”
“Apa? Jadi Dia itu putra Kyai Akhmad? Masya Allah, makanya dari penampilannya hampir sama. Lalu adiknya Mbok tahu?”
“Iya tahu lah Mah, Dia namanya Muhammad Ja’far Siddiq. Dia kan pemuda yang selama ini mengirim.........” Tiba-tiba saja kata-kata Mbok Lastri terhenti.
“Mengirim apa Mbok?” Ucapku penasaran
“Oh, tidak Mah. Mbok keceplosan, ya sudah cepat selesaikan pekrjaanmu. Setelah itu kamu makan yah, itu sudah Mbok siapkan di dapur.”
“Oh, iya Mbok makasih.”
            Malam menjelang, ketika Aku akan terlelap tidur. Tiba-tiba saja ada suara orang yang mengetuk pintu kamarku. Aku pun segera membukanya, namun tak ada siapapun di luar kamarku. Yang ada hanya sepucuk mawar merah dengan sepucuk surat tergeletak di dekat pintu.
“Perasaan tadi ada yang mengetuk pintu, kenapa sekarang tidak ada siapapun. Bunga mawar lagi?” Ucapku sembari mengambil bunga dan sepucuk surat berwarna putih yang tergeletak di depan pintu itu.
Aku segera masuk ke kamar dan segera membuka isi surat itu. Surat yang hanya berisi satu kalimat. “Hati mengantarkanku untuk mengenalmu dalam rajutan silaturahmi”.
“Apa maksudnya?”
 Sejak saat itu, setiap hari Aku selalu mendapatkan setangkai Mawar merah dan sepucuk surat yang sama. Entah sudah berapa banyak Bunga mawar dan surat yang Aku peroleh, hampir aku tak sanggup menghitungnya. Ketika Aku akan pergi ke dapur, Aku melihat Mbok Lastri sedang berbincang-bincang dengan seorang pemuda.
“Pemuda itu kan, pemuda yang dulu pernah menawarkan makanan kepadaku ketika di Dapur, ngapain Dia ngasih mawar merah dan Bunga ke Mbok Lastri?”
Aku pun langsung menghampirinya.
“Kamu yang mengirim surat dan Bunga itu ya?” Ucapku seketika kepada pemuda itu
“Fa...timah?” Ucapnya kaget
“Kamu tahu namaku?”
 “Iya, maaf. Kenalkan nama saya Ja’far.  Iya, memang sayalah orang yang selama ini mengirimkan sepucuk surat dan Bunga mawar itu kepadamu. Maaf kan saya?”
“Ja’far?” Ucapku kaget
“Maafkan saya Fatimah, saya hanya ingin berteman dengan kamu?”
Aku hanya terdiam dan menganggukkan kepalaku, meski hati ini terkejut dan tak percaya, tapi sungguh hati ini terasa bahagia. Bagaimana tidak, Ja’far putra kyai Akhmad ternyata seseorang yang selama ini telah mengirim mawar merah dan surat untukku.
Setelah pertemuanku dengan Ja’far, Aku tidak tahu mengapa Aku selalu kefikiran Dia terus.
“Fatimah, sadar fatimah. Astagfirullah hal adzim, kamu tidak boleh seperti ini, Ja’far itu putra Kyai Akhmad. Sedangkan kamu? Hanya seorang pembantu pondok saja.” Ucapku
            Ternyata jatuh cinta sungguh sangat menyenangkan, dan memang tidak di nafikan disaat ini ada sedikit cinta dihatiku untuk Ja’far, Aku teringin Ja’far mengetahui apa yang ada dalam hatiku saat ini. Tetapi, biarlah Allah yang lebih mengetahui apa yang ada dihatiku ini, sedangkan Allah yang menjadikan hati dan Allah lah juga yang mewujudkan perasaan itu. Jadi, biarkan cinta ini kupendam di dalam hatiku, dan cukuplah Aku mencintai Ja’far dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan, karena Aku yakin tiada yang tahu rancangan Allah. Mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan-lahan.
            Ya Allah, janganlah biarkan hatiku tertambat pada cinta yang belum tentu menjadi milikku, tenangkanlah diriku yang terbuai akan cinta palsu, sucikan nuraniku yang terbelenggu oleh nafsu, bersihkan batinku yang ternoda oleh angan dan harap. Ya Allah leraikanlah dunia yang hinggap dalam hatiku, karena disitu Aku tak mampu mengumpul dua cinta. Hanya cinta-Mu ya Allah yang Aku harap, karena cinta kepada-Mu akan sampai ke syurga. 
Tak tersadar air mata ini berlinang ketika bermunajat kepada-Nya. Ya, inilah cinta dalam diam. Cinta yang diredam dengan diamnya hati dan perkataan agar tidak berlebihan, karena berlebihan adalah hal yang disukai syaitan. Maka dari itu cinta ini cukup dalam diam. Diam dalam kesucian memelihara ketaatan dan keshalehan dari kerusakan yang di akibatkan oleh perilaku yang dilarang. Menjaga kebersihan jiwa dan kehormatan dari kotoran yang dilahirkan oleh sikap yang dilarang. Inilah cinta dalam diam, cinta yang di tundukkan karena takut akan membawa kepada kedurhakaan jika diungkapkan disaat yang bukan waktunya. Aku ingin hatiku dan hati Ja’far terpelihara kesuciannya dan senantiasa mengharap kepada-nya, tidak ternoda oleh perilaku dan perkataan yang nista. Karena, bahwa keindahan sejati itu dirasakan ketika sudah di dalam pernikahan. Dan inilah kekuatan cinta dalam diam, cinta yang dirahasiakan di masa belum saatnya terungkapkan untuk saling menjaga kesucian di masa kesendirian ini. Hingga kelak akhirnya, Allah akan mengaruniakan kesempatan di syurga yang penuh kenikmatan.
Dan tak terasa Aku sudah 3 tahun di Pesantren ini, besok Ahad Aku akan kembali pulang ke kampung halamanku di Pemalang.
“Mbok Lastri, terimakasih Mbok. Selama Fatimah disini, Mbok selalu baik dengan Fatimah. Menyayangi Fatimah seperti menyayangi putri Mbok sendiri. Besok Fatimah akan pulang ke Pemalang Mbok,” Ucapku sembari memeluk Mbok Lastri dengan menitihkan airmata
“Iya nak. Mbok sayang sekali sama Fatimah, sampai kapanpun Mbok akan tetap menganggap Fatimah sebagai anak Mbok.” Ucap Mbok Lastri
Setelah berpamitan dengan Mbok Lastri, Akupun berpamitan dengan Pak kyai Dan Bu nyai serta para Ustadzah dan santriwati di Pesantren. Mereka semua sangat baik, dan Aku tak akan pernah melupakan kebaikan mereka. Pengalaman di Pesantren ini adalah pengalaman terindah yang pernah Aku alami.
            Ketika pagi mulai menjelang, matahari mulai menampakkan kehangatannya. Aku pun mulai bersiap-siap untuk pulang ke Rumah.
“Hati-hati ya nak, Mbok pasti akan sangat merindukanmu?” Ucap Mbok Lastri sembari kembali memelukku dan mencium keningku
“Iya Mbok, Fatimah juga.”
Dengan Bismillah Aku langkahkan kaki ini, melangkahkan kaki ini untuk mewujudkan semua impianku di luar sana. Ketika Aku sudah akan naik bus, tiba-tiba saja ada orang yang memanggilku. Akupun menghentikan niatku untuk naik bus itu.
“Fatimah?”
“Ja’far?” Ucapku kaget
“Ambillah ini. Mungkin ini yang bisa Aku kasih terakhir kali untuk kamu, Aku harap kamu mau menerimanya Mah.” Sembari memberiku sebuah bingkisan berwarna putih abu-abu
“Iya, terima kasih.” Ucapku sembari menerimanya
Kemudian Akupun pergi, di dalam bus tak kuasa menahan air mata ini. Air mata ini pun akhirnya menetes juga. Aku membuka bingkisan itu, dan isinya adalah sebuah surat dengan sebuah Al-Qur’an kecil. Dan surat itu berisi,
Assalamualaikum Warohmatullah,
            Aku sangat ingat ketika awal Aku mengenalmu, awal yang baik bagiku. Setelah itu entah mata ini selalu melihat kamu, memperhatikan kamu. Ketika kamu sedang memasak, mengaji, membersihkan masjid, dengan telaten dan ikhlas kamu melakukannya. Aku tak ingin memikirkanmu, tetapi rasanya hati ini sulit. Aku sangat menghormatimu Fatimah, menghormatimu sebagai wanita muslimah yang solehah dan kuat. Tetaplah menjadi diri kamu sendiri, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis. Simpanlah Al-Qur’an ini, semoga kelak Allah dapat mempertemukan kita dalam sebuah ikatan suci. Amin
Wassalamualaikum Warohmatullah                                                                                                                                                                           
“Amin..” Ucap
Bus melaju dengan kencangnya, mengantarkan Aku pulang ke rumah. Dirumah, Ayah, Ibu dan adik-adikku ternyata sudah menyambutku. Aku sangat senang sekali, 3 tahun tak bertemu rasanya terbayarkan ketika melihat senyum dari wajah mereka.
“Ya Allah, anakku..... Ayah dan Ibu kangen sekali dengan kamu?” Ucap Ibu sembari memelukku
“Mba Imah.... kita semua juga kangen sama kamu Mba? “ Ucap Naela, adik ku yang tertua.
“Iya Yah, Ibu, ade... Mba juga kangen sekali dengan kalian. Tapi sekarang Fatimah kan sudah pulang, kita bisa bareng-bareng lagi.” Ucapku
            Hari-hari Aku lalui di Pemalang dengan suka cita, Aku membantu Ibu untuk jualan pecel di dekat rumah. Ketika ba’da maghrib Aku membantu anak-anak kecil mengajar ngaji, dan ketika ba’da isya Aku mengajar kitab kuning di madrasah sanawiyah. Bahkan kadang, setiap sore hari Aku diminta Pak ustadz Jaka untuk mengisi tausiyah untuk Ibu-ibu pengajian.
Ketika Aku sedang membantu Ibu untuk menggoreng tempe di warung pecel dekat rumah, tiba-tiba saja Udtadz Jaka datang.
“Assalamualaikum, Fatimah. Bisa bicara sebentar gak?”
“Waalaikum salam warohmatullah. Oh, iya bisa ustadz.”
Akupun mengajak Ustadz Jaka masuk kerumah.
“Ustadz mau minum apa?”
“Oh, tidak usah Mah. Saya hanya sebentar saja disini, cuma ingin meminta kamu untuk menjadi pembawa acara untuk acara besok Ahad. Soalnya akan ada tausiyah dari Kyai besar di Desa ini tepatnya di Masjid Baitus salam?”
“Jadi pembawa acara tadz?”
“Iya, gimana kamu bersedia?”
“Iya Tadz, Insya allah dengan senang hati...”
“Oh, ya alhamdulillah habis isya ya Mah. Ya sudah, saya pamit dulu ya Mah. Assalamualaikum?”
“Iya tadz, waalaikum salam warohmatullah”
Dan ketika hari Ahad pun tiba, setelah mengajar kitab kuning Akupun  bersiap-siap untuk datang ke Masjid. Sesampainya disana, ternyata sudah banyak sekali orang yang sudah berkumpul disana.
“Eh Fatimah sudah datang, oh ya ini susunan acaranya.” Ucap Ustadz Jaka
“Oh ya Ustadz. Maaf sebelumnya, Kyai yang akan mengisi tausiyah siapa ya tadz?”
“Oh ya, hampir lupa Mah. Namanya Kyai Siddiq.”
“Oh, iya tadz”
Kemudian sekitar pukul 21:00 acarapun dimulai, Aku memulai membuka acara ini. Alhamdulillah para warga sangat antusias dengan acara ini, apalagi ketika Aku mempersilahkan Kyai Siddiq untuk naik ke panggung. Serentak semua bertepuk tangan dan menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Ketika pandanganku ke arah Kyai Siddiq, betapa terkejutnya Aku ketika melihat sosoknya. Kalau ternyata ia adalah Ja’far. Muhammad Ja’far Siddiq, ya itu namanya. Kenapa Aku tidak berfikir sebelumnya kalau Kyai Siddiq itu Ja’far.
“Assalamualaikum Fatimah?” Ucapnya sembari tersenyum, ketika melewatiku untuk naik ke atas mimbar.
“Waalaikum salam warohmatullah” Jawabku lirih sembari membalas senyumnya
Setelah acara itu berakhir, tiba-tiba saja Ja’far menghampiriku.
“Ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu ya Mah?” Ucapnya dengan senyum tipis di wajahnya
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan membalas senyumnya tanpa berkata sepatah katapun. Dan Aku tidak menyangka, pertemuanku dengan Ja’far itu menjadi awal kebahagiaanku. Keesokan harinya, Ja’far bersama keluarganya datang kerumahku. Dan ternyata ia bermaksud, untuk mengajakku untuk membina keluarga dengannya. Subhanallah, hati ini sungguh sangat bahagia mndengar kata-kata itu darinya. Ayah dan Ibuku juga sangat setuju dan menerima Ja’far dengan baik. Dan kini Aku yakin bahwa cinta akan terasa lebih indah jika sudah tepat waktunya untuk diungkapkan.
SELESAI

                                                                                                                                               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah selalu bersamaku....

Duri

Laporan Batik di Museum Ranggawarsita