Rajutan Tali Persahabatan


RAJUTAN TALI PERSAHABATAN
            Fajar menjelang, kulihat matahari mulai menampakkan sinar hangatnya. Bunga-bunga disekitarku terlihat bergoyang-goyang seolah-olah sedang menyambut kedatanganku di kota kembang ini. Ya, inilah hari pertamaku di Bandung. Aku pindahan dari kota metropolitan, yang tidak lain adalah Jakarta.
“Wah, sejuknya?” Seruku ketika membuka jendela kamarku
Karena sangat asyiknya menikmati udara pagi, sampai ada Ibu di sampingku tak ku ketahui.
“Annisa, kamu belum siap-siap? Hari ini kan hari pertamamu berangkat kesekolah barumu sayang?”Ucap Ibu mengingatkanku
“Astagfirullah hal adzim. Annisa lupa bu.... ya udah Annisa siap-siap dulu ya bu.” Ucapku sembari segera bersiap-siap berangkat kesekolah. Untung saja tadi shubuh sudah mandi, jadi bisa mempersingkat waktu.
Dengan terburu-buru Aku mulai menata pelajaran, memasukkannya dalam tas dan kemudian memakai sepatu.
“Seharusnya tadi habis sholat shubuh Aku langsung siap-siap, gara-gara kecapaian deh jadi ketiduran lagi. Duh, gimana nih kalau terlambat...ini kan hari pertamaku masuk sekolah. Masa terlambat?” Gumamku sendiri
Setelah semuanya sudah siap Aku langsung berpamitan dengan kedua orang tuaku dan kakakku satu-satunya, ka’ Zahra. Yang saat itu mereka sedang sarapan.
“Bu, Yah, ka’ Zahra Aku berangkat dulu yah? Udah terlambat nih?”
“Loh tidak makan dulu sayang?” Ucap Ibu
“Tidak usah bu, nanti di kantin sekolah saja. Assalamualaikum?” Ucapku sembari mencium kedua tangan Ayah dan Ibu serta buru-buru berangkat kesekolah.
Aku segera mengambil sepeda berwarna pinkku yang berada di bagasi, dengan penuh semangat dan suka cita Aku kayuh sepedaku. Di persimpangan jalan, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju sangat kencang dan byuur......Aku terkena cipratan air kotor itu.
“Ah....Ya Allah, bajuku?” Ucapku
Tiba-tiba saja mobil itu berhenti, dan kemudian turunlah seorang gadis nan cantik dari mobil itu. Dengan rambut ikalnya yang sebahu, baju yang rapi, serta sepatu yang bagus. Sepertinya ia adalah orang kaya.
“Kamu nggak kenapa-napa kan?” Ucapnya sembari membantu membersihkan baju dan rokku yang kotor.
“Oh, nggak. Cuma sedikit basah saja, tapi nggak papa kok?”
“Maafkan Aku ya? Gara-gara mobilku, baju kamu jadi kotor kayak gini.”
“Nggak papa kok, beneran deh.”
“Hm, ya sudah. Oh ya, sudah siang nih Aku harus berangkat sekolah. Mau bareng?” Ajak gadis cantik itu
“Oh, tidak usah. Terima kasih, saya naik sepeda saya saja.”
“Oh, kalau beitu Aku duluan yah.”
Akhirnya gadis itu pun pergi, Aku pun segera mengayuh sepedaku kembali. Dan alhamdulillah Aku belum terlambat. Dan sesampainya di sekolah, Aku langsung menuju ke kantor guru.
“Kamu yang namanya Annisa Al-Munawaroh ya? Kenalkan, Ibu adalah wali kelas kamu. Nama Ibu Itha Kurniasih. Kamu bisa panggil Ibu Ita.” Sambut seorang guru yang cantik dan mempesona dengan jilbab melingkari dadanya.
“Oh iya Bu Itha.” Jawabku sembari mencium tangannya
“Oh ya, baju kamu kenapa kotor begini Nis?”
“Iya Bu, tadi kena air kotor. Tapi tidak apa-apa kok?”
“Ya sudah, ayo Ibu antarkan ke kelas baru kamu?”
“Iya Bu”
Kemudian Ibu Itha mengantarkanku menuju kelas baruku. Kelas X-1, ya itulah kelas yang akan aku tempati di SMA Negeri 1 Bandung ini. Dengan begitu ramahnya Bu Itha memperkenalkanku kepada teman-teman, tapi apa yang Aku dapat. Mereka semua malah mencibirku. Karena pakaianku yang kotor dan juga karena penampilanku yang mungkin menurut mereka kampungan.
“Pindahan dari mana Bu? Dari pedalaman ya? Lihat pakai jilbab lagi? benar-benar kampungan sekali” Teriak salah satu murid laki-laki, dan seketika semua siswa pun tertawa terbahak-bahak.
“Sudah-sudah diam semua...! Annisa, sekarang kamu duduk nomer 3 ya. Disamping Cila yah? Oh ya, Ibu harus ke kantor sekarang. Jadi, selamat belajar ya?”
“Iya Bu, terima kasih.”
Setelah Bu Itha pergi, Akupun langsung segera duduk. Tetapi gadis itu, yang bernama Cila malahan memarahiku.
“Heiy, gadis kampung. Enak saja kamu duduk disini, ini tempatnya Gladis tahu. Sana tempatmu di belakang...” Bentaknya
Ketika Aku akan pergi, tiba-tiba saja datang seorang gadis cantik. Dan ternyata gadis itu adalah gadis cantik yang tadi Aku temui di jalan.
“Loh, kamu kan? Sekolah disini juga ya?” Ucapnya penuh keramahan dan muka manis
“Iya, saya anak baru disini.”
“Wah, bagus donk. Oh ya, tadi kita belum kenalan. Kenalkan, nama Aku Gladissia Monika. Panggil saja Aku Gladis. Kalau kamu?”
“Annisa Al-Munawaroh, panggil saja Aku Annisa.” Sembari berjabat tangan dengannya
Melihat Aku dan Gladis berkenalan, seluruh teman-teman di ruangan kelas diam.
“Wah, seorang Gladis yang sangat populer di sekolah ini ternyata mau berkenalan dengan upik abu ya?” Sindir salah seorang siswa, kemudian semua siswa kembali menertawaiku.
“Gladis? Kamu apa-apaan sih? Dia itu anak kampungan, dekil. Kenapa kamu bisa-bisanya mau berkenalan dengan Dia? Ieuw...kamseupay” Ucap Cila
“Cila...jaga omongan kamu ya. Dan kalian semua yang ada disini, jaga omongan kalian semua. Annisa adalah orang yang baik, dan Dia bukan upik abu ataupun kampungan. Bajunya kotor karena tadi terkena cipratan air kotor dari mobilku. Mobilku melewati air kotor, dan air itu mengenai Annisa”
Mendengar ucapan Gladis sontak semua siswa di kelas X-1 terdiam, dan tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
“Annisa, maafkan kesalahan teman-temanku ya? Oh ya, kamu duduk di belakang denganku?” Ajak Gladis
“Loh dis, lalu Aku gimana? Kan hari ini ada ulangan harian?” Ucap Cila
“Cila, mulai sekarang Aku duduk dengan Annisa. Dan jika kamu ingin bisa mengerjakan ulangan, kamu harus belajar sendiri. Jangan selalu mengandalkanku”Jawab Gladis sembari menarik tanganku. Kemudian Aku dan Gladis duduk dimeja paling belakang.
“Dis, kenapa kamu baik sekali kepadaku?” Tanyaku
“Kenapa Nis? Kamu keberatan?. Aku cuma ingin berteman bahkan bersahabat dengan kamu? Kamu berbeda dengan teman-temanku yang lain?”
“Oh tidak Dis, Aku sangat senang dan sama sekali tidak merasa keberatan. Terima kasih ya kamu sudah mau menjadi sahabatku?”
Gladis hanya mengangguk dan kembali tersenyum kepadaku. Dan ternyata Gladis adalah gadis yang pintar, dan ternyata Dia juga selalu mendapat predikat 1 terus di kelasnya. Bahkan untuk seluruh kelas X Dia sering mendapat peringkat 1 pararel. Perlombaan berbagai tingkat nasional sering ia ikuti, dan hasilnya pun baik. Kejuaraan demi kejuaraan sering ia dapatkan. Makanya tidak salah Dia terkenal di sekolahnya dan sangat populer di SMA Negeri 1 bandung. Selain itu, yang membuatku semakin kagum dengan sosoknya. Gladis tidak pernah sombong, Dia sangat baik kepada semua orang, ramah serta santun. Bahkan tak jarang ketika Aku sedang belajar maupun jalan dengannya, ia selalu mendapatkan coklat, bunga atau sekedar kado ataupun sepucuk surat dari lawan jenisnya yang pastinya sangat mengagumi sosoknya.
            Semua yang Aku dapat dari Gladis, memberiku motivasi yang luar biasa. Aku yang dulunya sangatlah malas belajar kini menjadi rajin belajar, bahkan sekarang Aku selalu saingan dengan Gladis di kelas bahkan di sekolahan dalam hal belajar. Akupun sering direkomendasikan sekolah untuk mengikuti perlombaan-perlombaan, namun Gladis tidak merasa iri denganku. Gladis malahan mendukungku dan selalu memotivasiku. Aku dan Gladis adalah sahabat baik, kami selalu besama dalam suka dan duka.
“Annisa, Aku sangat senang bisa bersahabat dengan kamu?” Ucap Gladis ketika jam istirahat
“Iya, Aku juga sangat senang Dis.”
“Oh ya, Aku pingin deh bisa makai jilbab kayak kamu? Aku pingin bisa menjadi anak yang solekhah seperti kamu Nis?”
“Kamu serius pingin makai jilbab?”
“Iya, Aku serius?”
“Iya, alhamdulillah kalau begitu Dis. Menutup aurat itu adalah wajib, apalagi bagi seorang perempuan.”
“Memangnya aurat perempuan mana saja Nis?”
“Aurat perempuan itu seluruh tubuh terkecuali muka dan telapak tangan Dis.”
“Oh, begitu ya?”
“Iya”
            Keesokan harinya, ketika Aku berangkat kesekolah menggunakan sepeda. Aku lihat ada seorang gadis yang juga mengendarai sepeda berwarna hijau dengan jilbab di dadanya. Sungguh sangat manis dan mempesona.
“Annisa?” Ucap gadis itu
“Kok kayak bingung gitu sih? Ini Gladis Nis? Gladis sahabat kamu?” Ucapnya kembali
“Gladis...? Subhanallah Gladis, kamu cantik sekali menggunakan jilbab?”
Gladis hanya tersenyum tipis mendengar ucapanku itu.
“Oh ya, kamu sekarang berangkat ke sekolah menggunakan sepeda ya?” Tanyaku
“Iya, pakai sepeda kan lebih sehat bukan?”
“Iya, ya sudah ayo kita masuk kelas?” Ajakku
“Iya, ayo?”
Kamipun bersama-sama masuk ke kelas, dan seketika semua siswa-siswi terkagum-kagum melihat penampilan Gladis.
“Wah, Gladis tambah cantik dan solekhah ya?” Ucap salah seorang siswa
Mulai saat itu Gladis kini berubah, Dia kini selalu menutupi auratnya, rajin sholat fardlu tepat waktu, bahkan sholat sunnah dan puasa sunnah tak pernah ia tinggalkan. Dia juga selalu memintaku untuk mengajarinya mengenai ilmu agam islam lebih detail. Aku sangatlah senang, semampuku Aku selalu mengajarinya tentang agam.
            Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah hampir 3 tahun Aku bersekolah disini. Minggu depan Aku sudah melaksanakan UN. Detik-detik menjelang UN pun Aku dan Gladis manfaatkan dengan baik. Segala usaha sudah kami laksanakan dengan sebaik-baiknnya. Tawakalpun sudah kami laksanakan. Dan alhamdulillah ketika hari H nya, Aku dan Gladis beserta seluruh siswa-siswi kelas XII di SMA Negeri 1 Bandung dapat melaksanakan UN dengan sebaik-baiknya. Tinggal pasrah kepada Allah, semoga hasilnya baik.
“Semoga nanti hasil UN baik ya Nis?”
“Iya Dis, amin.”
Dan tak terasa hari itupun tiba, Aku dan Gladis dinyatakan lulus UN. Dan yang lebih membuat kami bahagia adalah, kami berhasil lolos masuk Perguruan Tinggi yang kami inginkan melalu jalur prestasi yang kami ikuti 2 bulan yang lalu. Namun sayang, kami ketrima di Perguruan Tinggi yang berbeda. Aku ketrima di Perguruan Tinggi Negeri di Semarang, sedangkan Gladis ketrima di Perguruan Tinggi Negeri di Bogor. Sebuah jarak yang begitu jauh menurutku.
“Alhamdulillah ya Dis, kita bisa lulus dengan nilai yang baik dan kita bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri yang kita inginkan.”
“Iya, alhamdulillah ya Nis.”
“Iya, tapi sayang kita tidak satu PTN Dis?”
“Iya, tapi jarak tak akan memutus persahabatan kita kan Nis? Kamu masih akan tetap menjadi sahabatku Nis, sampai kapanpun.”
“Iya Dis, Insya Allah. Satu hal yang harus kamu tahu, kalau Aku mencintaimu karena Allah.”
Mendengar kata-kataku, Gladis langsung memelukku. Dia menitihkan air matanya, sampai tak kiasa Akupun larut dalam kesedihan.
“Aku juga mencintaimu karena Allah sahabatku?” Ucap Gladis
            Kemudian setelah acara wisuda sekolahan, Aku langsung berangkat menuju Semarang untuk, mengurus registrasi. Begitupun dengan Gladis. Semenjak itu, kami jarang bertemu. Ketika Aku menghubungi nomer telponnya pun sudah tidak aktif, Aku kirim email dia tidak balas, facebook pun demikian. Aku tidak tahu lagi gimana kabar dia sekarang.
            Waktu terus berlalu, sampai tak terasa 4 tahun sudah Aku belajar di Perguruan Tinggi di Semarang. Aku sudah menjadi seorang guru biologi, dan Aku juga yakin Gladis di Bogor sudah menjadi seorang yang hebat di bagian pertanian.
“Gladis, Aku kangen sekali denganmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Sudah 4 tahun ini tidak ada kabar dari kamu sahabat...” Ucapku sendiri di dekat kampus.
Tiba-tiba saja Pak Tarno selaku keamanan kampus menemuiku.
“Annisa, ini ada titipan surat buat kamu?” Ucap Pak Tarno sembari memberikan surat itu kepadaku
“Surat Pak? Oh ya, terima kasih ya pak.” Jawabku sembari menerima surat itu
Setelah Pak Tarno pergi, Akupun langsung membuka isi surat itu.
Assalamu’alaikum sahabat baikku......
Gimana kabar kamu sekarang Nis, maafkan Aku selama ini Aku tidak pernah memberikan kabar ke kamu. Alhamdulillah kabar Aku di Bogor baik-baik saja, dan Akupun yakin kamu di Semarang juga baik-baik saja. Aku disini selalu mendoakanmu sahabatku... Oh ya, selamat ya hari ini kamu sudah di wisuda. Berati kamu sudah bisa jadi guru biologi yah... dan Aku harap kamu akan jadi guru biologi yang solekhah,aamiin. Oh ya, Aku punya kbar gembira buat kamu Nis. Aku ketrima masuk mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan S-2 dan S-3 di Amerika mengenai pertanian yang lebih luas lagi. Jadi, kemungkinan untuk saat ini selama 6 tahun kedepan kita tidak bisa bertemu dulu Nis. Tapi percayalah, insya allah sepulang dari Amerika Aku akan menemuimu.. kita bertemu di taman sekolah kita dulu ya di SMA Negeri 1 Bandung. Nanti Aku kabari kamu lagi kalau Aku akan pulang ke Indonesia. Jaga dirimu baik-baik ya kawan. Do’akan Aku semoga Aku di Amerika lancar yah. Aku sangat menyayangimu karena Allah.
Wassalamu’alaikum
                                                                                                From : Gladissia Monika
“Kabarku baik Dis, Aku bangga dengan kamu Dis... kamu pintar dan hebat. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu. Dan Aku akan menunggumu.” Ucapku
            Setelah acara wisuda, Akupun kembali ke daerahku di Bandung. Disana Aku mengajar sebagai guru biologi di SMA Negeri 2 Bandung.. Dan disekolahan itu pula Aku mengenal seorang pemuda yakni bernama Muhammad Khaerul Umar, Aku sama sekali tidak menyangka perkenalanku dengan seorang guru matematika itu adalah awal kebahagiaanku.Umar, begitu Aku memanggilnya ia menghitbahku setelah 1 bulan Aku berkenalan dengannya. Dan tak berselang lama, kamipun menikah. Umar adalah seorang pemuda yang baik, sholeh, santun, serta ia pun cerdas. Dan yang paling membuatku kagum dengannya adalah, dia sudah sangat mendalami ilmu agama, bahkan selama Aku mengenalnya ia selalu menasehatiku dan mengajariku tentang agama, selain itu dia juga pandai menulis. Bahkan dia pernah memberiku sebuah buku tentang islam karyanya sendiri. Masya Allah, itu yang membuatku kagum dengannya.
            6 tahun berlalu dengan cepat, di usiaku kini yang sudah menginjak 28 tahun Aku sudah memiliki 1 orang putra dan 2 orang putri. Dan di usiaku yang sudah tidak muda lagi ini, Aku masih ingat betul dengan Gladis. Yah, Gladissia Monika. Sahabat terbaikku, dan Aku juga masih ingat kalau Aku dan Gladis akan bertemu di taman sekolah kita dahulu di SMA Negeri 1 Bandung. 1 minggu yang lalu, Gladis mengirimku email kalau minggu depan ia akan pulang ke Indonesia dan dia juga mengabariku untuk bertemu denganku pada hari ahad pukul 14:00 siang. Dan saat itu sangatlah Aku tunggu-tunggu, setelah pekerjaan rumahku sudah selesai Aku meminta izin kepada mas Umar untuk ke taman menemui Gladis. Sebelumnya Aku sudah bercerita tentang Gladis kepadanya. Dan alhamdulillah beliaupun mengizinkan. Dengan mengendarai sepeda motor Akupun pergi ke taman, jarak antara rumahku dengan SMA Negeri I Bandung lumayan dekat. Sehingga hanya butuh waktu 15 menit saja Aku sudah sampai.
“Gladis sudah datang belum yah?” Ucapku sembari melirik kanan kiri
Akupun segera meletakkan sepeda motorku di parkiran. Dan setelah itu Akupun menunggu Gladis di tempat biasa kita bertemu dan bermain 10 tahun yang lalu. 15 menit, 30 menit, 1 jam bahkan sudah hampir 2 jam Aku menunggunya. Tapi dia tak kunjung datang.
“Gladis, kenapa kamu tidak datang juga? Kamu tidak mungkin lupa kan dengan janji kita?” Ucapku sendirian sembari tak kuasa air mata ini terus mengalir di pipiku.
Dan mungkin karena terlalu lama Aku di taman, mas Umar menjemputku.
“Nis, ayolah pulang? Mungkin Gladis lupa?” Ucapnya
“Tapi mas, mana mungkin dia lupa? Izinkan Aku menunggunya 15 menit lagi mas.”
Akhirnya mas Umar pun mengerti, namun Gladis tak kunjung datang juga. Cuacapun kini sudah tidak mendukung, awan-awan dilangit mengelilingiku.
“Ayolah Nis, sudah 15 menit juga tapi dia tak datang. Ayo kita pulang? Sebentar lagi akan hujan?” Ajak mas Umar
Akhirnya Akupun mengiyakan. Namun, ketika Aku dan mas Umar sudah akan pulang tiba-tiba saja kudengar ada seseorang yang memanggilku, Akupun menolehkan badanku.
“Gladis?” Ucapku
“Annisa...” Seru Gladis sembari berlari menghampiriku dan segera memelukku dengan sangat erat.
“Gladis, Aku kira kamu tidak akan datang?” Ucapku
“Maafkan Aku Nisa, Aku terlambat. Tadi Aku harus mengantarkan anakku ke pesantren dulu. Aku kangen sekali dengan kamu sahabatku, Aku sayang kamu karena Allah Ukhti?”
“Iya, Aku juga... Aku sayang kamu karena Allah Ukh”
Suasana ditaman itu seketika menjadi suka cita, Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan sahabat terbaikku Gladis. Sampai tak kuasa air  mata bahagia ini terus menetas. Disana Akupun mengenalkan mas Umar kepada Gladis. Dan ternyata Gladis pun sudah menikah dengan seorang dosen di Universitasnya dahulu, dan ia juga sudah memiliki 2 orang putri.     Dan kini Aku berharap rajutan tali persahabatan antara Aku dan Gladis akan tetap terus terjaga dan akan tetap terus terjalin sampai kapanpun. Usia, jarak, atau apapun itu tidak akan menghalangi sebuah ikatan persahabatan yang diawali dengan keikhlasan karena Allah.
SELESAI


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah selalu bersamaku....

Duri

Laporan Batik di Museum Ranggawarsita