Makalah Islam dan Kebudayaan Jawa
INTERRELASI NILAI JAWA DAN
ISLAM PADA ASPEK ARSITEKTUR
I.
PENDAHULUAN
Sejak
Islam masuk di Jawa, Islam bertemu dengan nilai-nilai Hindu Budha yang sudah
mengakar kuat di masyarakat. Tentu saja nilai-nilai dari Hindu- Budha pun
sebelumnya telah mengakomodasi nilai religi animisme dan dinamisme sebagai
nilai yang telah ada. Percampuran nilai tersebut yang kemudian disebut sebagai
nilai- nilai kebudayaan Jawa.
Ketika
Islam datang dan berinteraksi dengan nilai-nilai lama tersebut, masyarakat
sering menyebutnya sebagai nilai- nilai kebudayaan Jawa. Nilai- nilai
kebudayaan yang berkembang juga menyangkut bidang arsitektur. Mark R. Woodward
(1985) mengatakan bahwa Islam Jawa bagaimanapun juga berakar pada tradisi dan
teks suci Islam itu sendiri. Menurutnya penting untuk mengetahui pola hubungan
simbolik antara teks suci dan situasi historis umat Islam, sehingga kita bisa
melihat kehadiran arsitektur yang memadukan nilai Islam (di Timur Tengah) dengan
karakteristik lokal (Jawa) yang sudah
berkembang. Menurut Jauharotul Huda pemikiran Mark R. Woodward di atas
mengindikasikan sebagai salah satu produk budaya arsitektur di Jawa juga
meupakan bagian dari interpretasi teks dalam kehidupan orang Jawa yang menyejarah.
Pandangan
di atas akan membantah opini dimana Islam Jawa sering dipandang sebagai Islam
sinkretik atau Islam nominal, yang konsekuensinya Islam Jawa bukanlah Islam
dalam arti sebenarnya atau ‘kurang Islam’, bahkan ‘tidak islam’. Oleh karena itu,
penting pula memahami interrelasi Islam Jawa pada bidang arsitektur. Mengingat
arsitektur (secara fisik) menunjukkan keberadaan perkembangan budaya suatu
daerah. Misalnya dari bangunan tempat ibadah, makam, tata ruang kota, dll.
Sehingga dalam makalah ini kami akan membahas mengenai interrelasi Islam dan
budaya Jawa pada aspek arsitektur.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Apa
pengertian arsitektur Islam?
B.
Bagaimana sejarah
arsitektur dalam Islam?
C.
Bagaiman pola
interrelasi nilai Jawa dan Islam pada aspek arsitektur?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Arsitektur Islam
Kata Arsitektur berasal dari bahasa Yunani, yaitu : architekton
yang terbentuk dari dua suku kata, yakni arkhe yang bermakna asli,
awal, otentik, dan tektoo yang bermakna bediri stabil, dan kokoh.
Arsitektur Islam adalah Ilmu dan seni merancang bangunan, kumpulan bangunan,
struktur lain yang fungsional, dan dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam.
[1]
Secara
singkat, arsitektur adalah pengetahuan seni merancang (mendesain) bangunan.
Adapula yang mengartikan, arsitektur merupakan perkara bangun-membangun,
perkara merangkai dan menegakkan bahan satu dengan bahan lain untuk melawan
gravitasi yang cenderung menarik rebah ke tanah.
Sedangkan
arsitektur Islam adalah arsitektur yang berangkat dari konsep pemikiran Islam. Inti
dari ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadist, dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa arsitektur Islam juga memiliki inti yang sama. Dalam kategori
ini arsitektur Islam yang dimaksud terkait dan terikat dengan suatu zaman atau
periode tertentu atau kaum tertentu, jadi dapat dikatakan arsitektur Islam
adalah abadi dan borderless atau tidak terbatas pada daerah tertentu
bagi kaum tertentu.
Arsitektur
Islam sebagai cerminan budaya sosial kultural ummah (masyarakat Islam) yang
tengah berkembang pada periode waktu dan tempat tertentu (selanjutnya kita
sebut arsitektur budaya Islam Jawa).
Hasil
karya utama dalam seni arsitektur Islam adalah masjid sebagai konsekuensi dari
ajaran Islam yang mengajarkan shalat dan masjid sebagai tempat pelaksanaannya.
Kemudian muncul bangunan-bangunan lain di luar masjid yang juga masih merupakan
rangkaian ungkapan kehidupan Islam sebagai fasilitas yang menampung kebutuhan
manusia, yaitu istana- istana, bangunan benteng pertahanan, dan makam- makam.
B. Sejarah Arsitektur
dalam Islam
Asal
mula pertumbuhan arsitektur Islam terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan al-Khulafa’
ar-Rasyid. Sejarah arsitektur Jawa- Islam sebenarnya sudah dapat dilihat
sejak awal masuknya Islam di Jawa. Mengingat bahwa salah satu saluran penyebaran
Islam di Jawa dilakukan melalui karya seni arsitektur, diantaranya adalah
bangunan masjid. Dalam sejarah peradaban agama Islam, masjid dianggap sebagai
cikal bakal arsitektur dalam Islam, yakni dengan dibangunnya masjid Quba oleh Rasulullah
SAW sebagai masjid pertama yang dibangun.
Sementara
itu, sebelum Islam masuk di Jawa masyarakat Jawa telah memiliki kemampuan dalam
melahirkan karya seni arsitektur, baik yang dijiwai oleh nilai seni asli Jawa
maupun jenis bangunan lain seperti di kuburan, candi, keraton, dll.
Oleh
karena itu ketika Islam masuk di Jawa, arsitektur Jawa tidak dapat dinafikan
oleh Islam. Jadi, agar Islam dapat diterima sebagai agama orang Jawa, maka
simbol- simbol Islam hadir dalam bingkai budaya dan konsep Jawa yang kemudian memunculkan
kreativitas baru sebagai hasil berasimilasinya dua kebudayaan dan sekaligus
sebagai pengakuan akan keberadaan keunggulan Muslim Jawa dalam karya arsitektur.
1. Masjid sebagai manifestasi keyakinan
Interrelasi
Islam dalam arsitektur Jawa sebenarnya sudah terjadi sejak awal Islam masuk
Jawa. Salah satunya adalah Masjid. Masjid secara literal, berasal dari
sajada (bersujud), yang berarti tempat sujud. Sedangkan sujud adalah bagian
terpenting dalam ibadah shalat. Hal yang dibebankan kepada muslim setiap hari
lima kali. Secara tidak langsung, masjid merupakan bukti kepatuhan hamba kepada
Sang Khalik. Maka keberadaannya cukup urgen. Masjid juga dianggap sebagai cikal
bakal arsitektur dalam Islam
Dalam sejarah Islam, masjid yang pertama kali di
bangun oleh Rasul adalah Masjid Quba. Awal keberadaannya berbentuk sangat sederhana
sekali, dengan lapangan terbuka sebagai intinya dan penempatan mimbar pada sisi
dinding arah kiblat.[2] Serta di
tengah- tengah lapangan terdapat sumber air untuk tujuan bersuci. Masjid Quba
juga keberadaannya menjadi tempat yang lapang untuk beribadah dan berkumpul.
Sedangkan dalam corak bentuk utuhnya mengalami perkembangan. Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu
utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat
masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para
jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan.
Diseberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar
mengajar.[3]
Masjid Quba di Madinah
Masjid Quba sendiri saat ini telah
mengalami perubahan dan perkembangan, seperti penambahan mihrab dan penonjolan
dinding pada arah kiblat.[4]
Mihrab di Masjid Quba
Dibawah
ini beberapa contoh arsitektur masjid di Jawa :
a. Masjid Agung Demak
Masjid
Agung Demak memiliki arsitektur yang masih bergaya Hindhu dan dimodifikasi
dengan nuansa Islam. Atapnya yang terbuat dari kayu jati, bersusun tiga,
menggambarkan kaitan antara iman, islam dan ikhsan. Pintu masuk ke bangunan
utama masjid ada 5 buah yang menggambarkan rukun Islam. Sedangkan jendelanya 6
buah melambangkan rukun iman.
Masjid
ini merupakan satu- satunya
masjid yang pertama dan tertua di Jawa. Konon tiang- tiang utama dari masjid
yang berjumlah 4 buah, tiang sebelah tenggara dicari dan dibuat oleh Raden
Rahmat atau Sunan Ampel, sebelah barat daya oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan
Gunung Jati, Barat laut oleh Mahmud Ibrahim atau Sunan Bonang, Timur laut oleh
Raden Sahid atau Sunan Kalijogo yang membawa tiang saka setinggi 19,54 M yang
terbuat tidak dari pohon jati.
Sunan Kalijogo yang disebut sebagai
pimpinan pendirian masjid itu hanya mengumpulkan ranting- ranting kayu, ijuk,
diikat dengan tali rawadi. Untuk menjaga keamanan dan kelestarian tiang- tiang
itu, kini telah ditutupi dengan kayu yang mengelilingi setiap tiang itu. 4
tiang lainnya diambil dari bangunan kerajaan Majapahit. [5]
b. Masjid Al- Aqsha (Masjid Menara Kudus)
Masjid
Menara Kudus terletak di Kota Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang dibangun oleh Ja’far
Sodiq/ Sunan Kudus ini mempunyai menara yang sangat antik, yang mencerminkan
perpaduan dua budaya : Islam dan Hindu Jawa. Di bagian depan ditambah bangunan
baru berupa serambi. Di atas serambi itulah dibangun sebuah mimbar kubah yang
besar bercorak arsitektur bangunan India. Di dalam serambi terdapat menara,
tetapi lebih tepat seperti bangunan candi. Bahwa bangunan ini ada kemiripan
dengan candi Jago yang terdapat di Mageng. Pada kaki menara berbentuk bujur
sangkar, menara ini terdiri atas 3 bagian: kaki menara, badan menara, dan
puncak menara. Pada bagian mustakanya dibuat dari emas yang diberi tangkai
kaca. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Islam tidak merusak kebudayaan yang
telah ada sebelumnya.[6]
c. Masjid Jami’ Al- Muttaqin Kaliwungu
Masjid
Jami’ Al- Muttaqin didirikan pada abad XVII M. Pendapat ini didasarkan pada
angka tahun yang ada di makam Kyai Guru Asari, pendiri masjid ini. Tidak jauh
dari lokasi masjid, dapat kita temukan kompleks makam Kyai Guru Asari dan para
keluarga serta keturunannya pada saat ini masih dikeramatkan dan diziarahi oleh
masyarakat Kendal maupun kota- kota lain di sekitarnya.
Guru
Kyai Asari adalah putara Kyai Ismail dari Yogyakarta. Kyai Guru Asari termasuk
keturunan Maulana Malik Ibrahim. Kedatangan Beliau dan keberadaan masjid Jami’
yang pada mulanya hanya sebuah surau
atau langgar itu rupanya membawa perubahan besar bagi masyarakat
Kaliwungu dan sekitarnya. Setelah beberapa ratus tahun sepeninggalan Kyai Guru
Asari, Kaliwungu benar- benar menjadi daerah pesantren yang marak dan terkenal
dengan julukan “Kota Santri”.
Yang
paling menarik dari masjid bersejarah ini adalah upacara syawalan yang diadakan
setiap tanggal 7- 14 Syawal setiap tahunnya. Upacara syawalan ini sebenarnya
adalah upacara haul wafatnya Kyai Guru Asari. Tetapi, sekarang ini kegiatan
tersebut lebih menonjol sebagai kegiatan pasar satu malam minggu. Masyarakat
muslim di Jawa Tengah, khususnya masyarakat Kendal sendiri terutama para orang
tua merasa belum sempurna kalau tidak mengunjungi upacara syawalan.
2.
Pembuatan Makam atau Kuburan
Selain beraneka
ragam ciri arsitektur masjid Jawa sebagaimana uraian di atas, di sekitar
komplek masjid di Jawa juga terdapat bangunan makam. Biasanya makam yang
terdapat di sekitar masjid adalah makam para tokoh Islam yang hidup di sekitar
masjid itu berada, seperti masjid Kudus yang berada satu komplek dengan makam Sunan
Kudus dan masjid Demak satu komplek dengan makam Raden Patah. Selain para tokoh
Islam, makam para keluarganya, pangeran, punggawa keraton, tumenggung dan
sebagainya juga berada di tempat itu. Makam merupakan tempat yang hampir ada di setiap tempat. Tak terkecuali
keberadaan Islam.
C.
Interrelasi
Islam Jawa
Sebelum
Islam masuk di Jawa, masyarakat Jawa telah memiliki kemampuan dalam melahirkan
karya seni arsitektur, baik yang dijiwai oleh nilai asli Jawa maupun yang sudah
dipengaruhi oleh Hindu- Budha. Hal ini terlihat dari berbagai bangunan seperti candi, keraton, benteng,
kuburan, meru, rumah joglo, relief pada gapura, hiasan tokoh wayang pada rumah,
padepokan dan lain- lain.
Oleh karena itu ketika Islam masuk di Jawa, keberadaan arsitektur
Jawa telah berkembang dalam konsep dan filosofi Jawa tidak dapat dipandang
sebelah mata oleh Islam. Jadi, agar Islam dapat diterima dengan baik di Jawa
maka simbol- simbol Islam hadir dalam bingkai budaya dan konsep Jawa. Dengan
kata lain, terjadi asimilasi antara kebudayaan Islam dan Jawa, sehingga
membentuk budaya tersendiri yang berbeda sebagai perpaduan antara keduanya yang
tidak dapat dipisahkan lagi, salah satunya dari segi arsitektur.[7]
1.
Interrelasi
Islam dan Jawa dalam arsitektur masjid
Dari uraian diatas, berikut
ini adalah interrelasi antara nilai Islam dan Jawa dalam arsitektur masjid:
a)
Adanya menara
yang mirip dengan meru pada bangunan hindu.
Kata menara dari
perkataan manara yang berasal dari bahasa arab nar yang berarti
api atau nur yang berarti bahaya. Awalan kata ma menunjukkan tempat.
Jadi menara berarti tempat menaruh api atau cahaya di atas. Akan tetapi
kemudian memiliki manfaat yang lain, yakni untuk mengumandangkan adzan guna
menyeru orang melakukan Shalat.[8]
Sugeng Haryadi menyatakan bahwa menara dalam pandangan ulama sufi dikategorikan
Manaru yaitu suatu bangunan yang puncaknya digunakan untuk memancarkan
cahaya Allah SWT (agama Islam). Seperti contohnya masjid Kudus (Masjid
Al-Aqsha) yang memiliki menara bercorak Hindu.
b)
Adanya lawang
kembar, pintu gapura dan pagar bercorak Hindu.
c)
Penggunaan
bentuk atas bertingkat/ tumpang dan pondasi persegi.
Bentuk bangunan masjid dengan model
atas tingkat tiga diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang
ditopang oleh tiga aspek, yakni Iman, Islam dan Ihsan. Adapun Nurcholis Madjid
menafsirkannya sebagai lambang tiga jenjang penghayatan keagamaan manusia yaitu
tingkat dasar (purwa), menengah (madya) dan tingkat akhir yang
maju dan tinggi (wusana), yang sejajar dengan jenjang vertikal Islam,
Iman, dan Ihsan. Selain itu dianggap pula sejajar dengan syari'at, thariqat,
dan ma'rifat.[9]
d)
Adanya
pawastren.
Pawastren
adalah tempat shalat yang dikhususkan bagi para wanita. Biasanya ditempatkan di
bagian selatan ruang utama dan dihubungkan dengan jendela dan pintu. Namun ada
juga pawastren yang letaknya di sebelah utara, sebagaimana terdapat pada
masjid Kudus Kulon. Bahkan di masjid Mantingan malah tidak ada pawastrennya.
e)
Adanya bedug
dan kentongan.
Biasanya
masjid di Jawa dilengkapi dengan bedug dan kentongan sebagai pertanda masuknya
waktu shalat yang pada masanya dianggap sebagai sarana yang sangat efektif untuk
komunikasi. Sunan Kudus juga punya kebiasaan unik terkait dengan bedug ini, yakni kegiatan
menunggu datangnya bulan Ramadhan. Untuk mengundang para jamaah ke masjid,
Sunan Kudus menabuh bedug berulang- ulang. Setelah jamaah berkumpul di masjid,
Sunan Kudus mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa.[10]
2.
Interelasi
Islam dan Jawa dalam arsitektur makam
Contoh interrelasi yang
terjadi antara nilai Islam dan nilai Jawa dalam arsitektur makam atau kuburan
adalah sebagai berikut:
a.
Penggunaan
penanda pada makam seperti batu nisan dan ada pula yang diberi cungkup.
Di Jawa, makam merupakan salah satu tempat yang dianggap sakral,
bahkan cenderung dikeramatkan. Dilihat dari corak arsitekturnya terdapat
beberapa bentuk. Ada yang sederhana dengan hanya ditandai batu nisan seperti
makam Fatimah binti Maimun, atau makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Ada
pula yang diberi cungkup dan diberi hiasan- hiasan dan kelambu seperti
makam Sunan Kudus, Raden Patah, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan lain- lain.
Cungkup
makam Sunan Kudus
b.
Ditempatkannya
makam di tempat yang tinggi.
Sesuai dengan
hadits Nabi yakni kuburan lebih baik ditinggikan dari tanah sekitar agar mudah
diketahui (HR. Baihaqi). Contoh makam yang ditempatkan di puncak bukit adalah
komplek neoporole raja-raja Mataram di Imogiri, Astana Giribangun Mangadeg di
Matesih, dan Makam Sunan Muria di gunung Muria. Kondisi ini menyerupai bangunan
pura yang di dalamnya terdapat abu pembakaran mayat yang diletakkan pada tempat
tinggi pada tradisi Hindu.
Jalan menuju makam di
Imogiri
|
|
c.
Adanya bangunan
berlapis di sekeliling makam.
Bangunan
makam sunan Kudus yang arealnya dikelilingi bangunan yang berlapis- lapis
mengingatkan kita pada bentuk bangunan kedhaton pada keraton jaman
kerajaan Hindu dan lawang korinya.
d.
Adanya candi
pada beberapa Makam di Jawa menunjukkan adanya bukti interrelasi budaya Jawa dan
Islam dalam arsitektur makam.
e.
Penggunaan
istilah pesarean (tempat tidur panjang).
Dalam tradisi
pra- Islam hampir tidak mengakui kematian. Kematian sering disamarkan atau ditafsirkan
dengan "kembali ke alam Dewa", "Sirna", dan sebagainya. Hal
ini mengakibatkan makam tidak dianggap sebagai kubur sebagaimana konsep Islam,
tapi sebagai tempat "tidur panjang" (pesarean), astana
atau tempat ketenangan (kasunyatan).
IV.
KESIMPULAN
Arsitektur Islam
adalah Ilmu dan seni merancang bangunan, kumpulan bangunan, struktur lain yang
fungsional, dan dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam.
Asal mula pertumbuhan
arsitektur Islam terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan al-Khulafa’
ar-Rasyid. Dan dalam sejarah peradaban Islam masjid dianggap sebagai cikal
bakal arsitektur dalam Islam.
Pola interrelasi
arsitektur Islam dan Jawa menghadirkan simbol-simbol Islam dalam bingkai budaya
dan konsep Jawa, yang salah satunya terlihat dalam bangunan masjid dan kuburan
/ makam yang ada di pulau Jawa.
V.
PENUTUP
Demikian
makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Islam dan Kebudayaan
Jawa. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka
dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki
makalah ini dan makalah- makalah kami selanjutnya. Dan semoga apa yang telah
kita diskusikan dapat menambah rasa syukur serta menambah iman kita kepada
Allah SWT.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Bakir Zein, Masjid-masjid
bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.
Abdul Jamil dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta:
Gama Media, 2000.
Azymardi Azra, dkk, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar
baru, 1997.
Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah
Walisongo, Yogyakarta: Graha Pustaka, cet. VII, 2009.
Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah
Walisongo, Yogyakarta: Graha Pustaka, cet. VII, 2009.
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Quba diakses pada 25 Maret 2013
Pukul 15:00.
M. Abdul Karim, Islam Nusantara,
Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, cet. I, 2007.
M. Darori Amin, Islam dan
Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media, cet. I, 2000.
1.
|
Nama
|
:
|
Lutfi Ardiana Sari
|
NIM
|
:
|
123111096
|
|
Jurusan/ Prodi
|
:
|
PAI
|
|
TTL.
|
:
|
Kendal, 21 Desember 1994
|
|
Pendidikan
|
:
|
1.
SD N Kumpulrejo
|
|
2.
SMP N 1 Brangsong
|
|||
3.
SMK N 1 Kendal
|
|||
4.
IAIN Walisongo Semarang
|
|||
Alamat
|
:
|
Ds. Kebonadem RT/RW: 03/04 Brangsong- Kendal
|
|
No Telp.
|
:
|
085726164086
|
|
Email
|
:
|
||
2.
|
Nama
|
:
|
Nur Faizah
|
NIM
|
:
|
123111118
|
|
Jurusan/Prodi
|
:
|
PAI
|
|
TTL
|
:
|
Tegal, 24 Februari 1994
|
|
Pendidikan
|
:
|
1.
SD Kedungkelor
01
|
|
2.
SMP Pomosel Kendal
|
|||
3.
MAN Pemalang
|
|||
4.
IAIN Walisongo Semarang
|
|||
Alamat
|
:
|
Kedungkesambi RT/RW:03/02
Warurejo- Tegal
|
|
No Telp.
|
:
|
081902291922
|
|
Email
|
:
|
||
3.
|
Nama
|
:
|
Lestari
|
NIM
|
:
|
123511010
|
|
Jurusan/Prodi
|
:
|
Tadris / Matematika
|
|
TTL.
|
:
|
Kendal, 22 Februari 1994
|
|
Pendidikan
|
:
|
1.
SD 01 Candiroto
|
|
2.
SMP N 03 Kendal
|
|||
3.
SMA N 02 Kendal
|
|||
4.
IAIN Walisongo Semarang
|
|||
Alamat
|
:
|
Candiroto, RT/RW : 18/01 Kendal
|
|
No Telp.
|
:
|
085727704770
|
|
Email
|
:
|
[1] Azymardi Azra, dkk, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar baru,
1997, hal. 166.
[2]http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Quba
diakses pada 25 Maret 2013 Pukul 15:00
[3] Abdul Jamil dkk, Islam dan
Kebudayaan Jawa, Yogyakarta :Gama Media, 2000, hal. 186.
[4] Abdul Jamil, Islam dan
Kebudayaan Jawa, Yogyakarta :Gama Media, 2000, hal. 186
[5] Abdul Bakir Zein, Masjid-masjid bersejarah di Indonesia,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1999) hlm. 210-213
[6]Abdul Bakir Zein, Masjid-masjid bersejarah di Indonesia,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1999) hlm. 224-227
[7] M. Abdul Karim, Islam Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher, cet. I, 2007, hlm. 152.
[9] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama
Media, cet. I, 2000, hlm. 190
[10] Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo, Yogyakarta: Grha
Pustaka, cet. VII, 2009, hlm. 120
Komentar
Posting Komentar